Senin, 20 Mei 2013

Tentang Sebuah Batu Bata Jelek

Cerita pertama ini dari Ajahn Brahm, beliau penulis buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 1-3. Gue penggemar buku dari beliau, semuanya ceritanya sangat bermanfaat bagi gue dan kalian mungkin akan merasakan manfaatnya juga. Bukunya pada dipinjem sama temen gue semua, belum balik sampai sekarang. Cerita dari Ajahn Brahm ini akan gue tulis lagi dengan bahasa gue sendiri dan alurnya berbeda tapi intinya atau maknanya sama aja, jadi jangan kaget kalau ada  yang beda dari yang aslinya. Okehh langsung ke cerita....

Awalnya, Ajahn Brahm adalah biksu muda mendapat tugas untuk membuat tembok bata dari sang guru. Dia guru yang sangat tenang, apapun tugas yang diberikan kepada semua muridnya memiliki makna di dalamnya. Campuran semen, pasir dan air mulai diaduk, dia mengaduk sambil melihat kiri kanan akhirnya tertuju ke tumpukan bata dan disampingnya ada gurunya yang duduk bersila kelihatannya dia sedang bersemedi sepeeti halnya biksu lain yang bersemedi.
Bata pertama disusunnya dengan sangat hati-hati, sukses dengan bata pertamannya dia melanjutkannya ke bata kedua yang disusun disampingnya. Dia menyusunnya sambil menoleh ke gurunya yang masih tenang bersemedi, tak merasa terganggu apapun. Dia tersenyum ke gurunya tapi guru itu tidak mengetahuinya. Dia melanjutkan pekerjaannya.

Tumpukan bata baris pertama dan kedua selesai. Dia mengambil tumpukan bata baru dan mulai menyusunnya lagi di baris ketiga, saat mau mengambil bata yang ingin disusun dia melihat sekilas bata yang bentuknya aneh berbeda dengan bata normal lain, ibaratnya bata ini gila lainnya masih waras. Brahm mengambilnya melihatnya dengan seksama, dia berpendapat kalau bata ini sudah tak layak jadi bagian dari tembok yang dia buat untuk gurunya. Akan jadi apa jika bata gila ini disusun bersama  bata waras lain, malah gilanya nular ke bata waras lainnya malah tambah jelek tembok yang dia buat nanti, itu yang dipikirkan Ajahn Brahm muda. Ajahn Brahm muda berdiri membawa bata yang gila ini berjalan menuju semak-semak hendak membuangnya. Selagi Brahm berjalan sang guru ababil bangkit dari semedinya mendekati Brahm.

 "Jangan membuangnya !", suara khas laki-laki berumur 60-an tahun "Kau hanya membuang apa yang sudah kau punya dengan sia-sia, jangan !"
"Tapi, bata ini tidak layak buat tembok yang engkau minta untuk ku buatkan, malah tambah jelek jika dilihat" suara jernih dari pria berumur 21 tahun
"Tetap susun batanya, itu tugasmu kan !"
Tidak berkata apa-apa Brahm kembali duduk di kursi kecil dari kayunya untuk menyusun kembali bata tidak waras ini, dia diam sejenak memandangi bata jelek dan memikirkan apa yang dipikirkan oleh gurunya. Gurunya itu bagai gudang teka-teki yang harus diisi. Dia sudah membayangkan bagaimana jadinya, jelek, menurutnya itu sudah pasti. Tapi pemikiran seorang guru memang sulit untuk ditebak.

Dan akhirnya susunan bata gila tersusun tapi masih kelihatan jelek menurutnya, dia hanya fokus hanya di batu jelek itu saja, tidak keseluruhan susunan bata yang rapi. Baris per baris bata terselesaikan rapi dan hampir rampung, sesekali dia memandang gurunya yang kembali semedi. Dia takut apa yang dikatakan gurunya ternyata berbalik dengan kenyataan yang sebenarnya kalau temboknya kacau gara-gara satu bata yang abnormal. Akhirnya temboknya rampung, dia masih saja fokus ke batu jelek itu.

"Ohh, sudah jadi ya, indah sekali !" gurunya memuji dari jauh dibarengi senyum manis.
"Guru mungkin salah menilainya, sudah terlihat...." belum selesai bicara gurunya menyuruh untuk Brahm mendekat ke gurunya.
"Kesini mendekat kepadaku, aku mau jelaskan."
pandangan seketika berbeda saat Brahm mendekat di samping gurunya kira-kira jarak 8 meter dari tembok, bata jelek itu kini hampir tak terlihat.
"Batu jelek itu ibarat sebuah keburukan seseorang dan bata yang lainnya adalah kebaikan seseorang, kamu tidak bisa menilai seseorang hanya dari keburukannya. Keburukan seseorang akan tertutupi dengan kebaikannya sendiri. Kamu hanya fokus dalam menilai bata yang jelek itu saja, tidak menghiraukan bata-bata yang baik lainnya. Kamu baru tersadar saat kamu mundur beberapa langkah dan melihat keseluruhan tembok yang kau buat, bata yang kau anggap buruk kini tertutupi dengan bata yang baik. Penilaianmu berdasarkan fisik tidak dari hati kecilmu.”


TaplakSuci
Follow me @tikoauo

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright 2009 BLOG SEKAWAN