Cerita pertama ini dari Ajahn Brahm, beliau penulis
buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 1-3. Gue penggemar buku dari beliau,
semuanya ceritanya sangat bermanfaat bagi gue dan kalian mungkin akan merasakan
manfaatnya juga. Bukunya pada dipinjem sama temen gue semua, belum balik sampai
sekarang. Cerita dari Ajahn Brahm ini akan gue tulis lagi dengan bahasa gue
sendiri dan alurnya berbeda tapi intinya atau maknanya sama aja, jadi jangan
kaget kalau ada yang beda dari yang
aslinya. Okehh langsung ke cerita....
Awalnya, Ajahn Brahm adalah biksu muda mendapat tugas
untuk membuat tembok bata dari sang guru. Dia guru yang sangat tenang, apapun
tugas yang diberikan kepada semua muridnya memiliki makna di dalamnya. Campuran
semen, pasir dan air mulai diaduk, dia mengaduk sambil melihat kiri kanan
akhirnya tertuju ke tumpukan bata dan disampingnya ada gurunya yang duduk bersila
kelihatannya dia sedang bersemedi sepeeti halnya biksu lain yang bersemedi.
Bata pertama disusunnya dengan sangat hati-hati,
sukses dengan bata pertamannya dia melanjutkannya ke bata kedua yang disusun
disampingnya. Dia menyusunnya sambil menoleh ke gurunya yang masih tenang
bersemedi, tak merasa terganggu apapun. Dia tersenyum ke gurunya tapi guru itu
tidak mengetahuinya. Dia melanjutkan pekerjaannya.
Tumpukan bata baris pertama dan kedua selesai. Dia
mengambil tumpukan bata baru dan mulai menyusunnya lagi di baris ketiga, saat
mau mengambil bata yang ingin disusun dia melihat sekilas bata yang bentuknya
aneh berbeda dengan bata normal lain, ibaratnya bata ini gila lainnya masih
waras. Brahm mengambilnya melihatnya dengan seksama, dia berpendapat kalau bata
ini sudah tak layak jadi bagian dari tembok yang dia buat untuk gurunya. Akan
jadi apa jika bata gila ini disusun bersama
bata waras lain, malah gilanya nular ke bata waras lainnya malah tambah
jelek tembok yang dia buat nanti, itu yang dipikirkan Ajahn Brahm muda. Ajahn
Brahm muda berdiri membawa bata yang gila ini berjalan menuju semak-semak
hendak membuangnya. Selagi Brahm berjalan sang guru ababil bangkit dari
semedinya mendekati Brahm.
"Jangan
membuangnya !", suara khas laki-laki berumur 60-an tahun "Kau hanya
membuang apa yang sudah kau punya dengan sia-sia, jangan !"
"Tapi, bata ini tidak layak buat tembok yang
engkau minta untuk ku buatkan, malah tambah jelek jika dilihat" suara
jernih dari pria berumur 21 tahun
"Tetap susun batanya, itu tugasmu kan !"
Tidak berkata apa-apa Brahm kembali duduk di kursi
kecil dari kayunya untuk menyusun kembali bata tidak waras ini, dia diam
sejenak memandangi bata jelek dan memikirkan apa yang dipikirkan oleh gurunya.
Gurunya itu bagai gudang teka-teki yang harus diisi. Dia sudah membayangkan
bagaimana jadinya, jelek, menurutnya itu sudah pasti. Tapi pemikiran seorang
guru memang sulit untuk ditebak.
Dan akhirnya susunan bata gila tersusun tapi masih
kelihatan jelek menurutnya, dia hanya fokus hanya di batu jelek itu saja, tidak
keseluruhan susunan bata yang rapi. Baris per baris bata terselesaikan rapi dan
hampir rampung, sesekali dia memandang gurunya yang kembali semedi. Dia takut
apa yang dikatakan gurunya ternyata berbalik dengan kenyataan yang sebenarnya kalau
temboknya kacau gara-gara satu bata yang abnormal. Akhirnya temboknya rampung,
dia masih saja fokus ke batu jelek itu.
"Ohh, sudah jadi ya, indah sekali !" gurunya
memuji dari jauh dibarengi senyum manis.
"Guru mungkin salah menilainya, sudah
terlihat...." belum selesai bicara gurunya menyuruh untuk Brahm mendekat
ke gurunya.
"Kesini mendekat kepadaku, aku mau
jelaskan."
pandangan seketika berbeda saat Brahm mendekat di
samping gurunya kira-kira jarak 8 meter dari tembok, bata jelek itu kini hampir
tak terlihat.
"Batu jelek itu ibarat sebuah keburukan seseorang
dan bata yang lainnya adalah kebaikan seseorang, kamu tidak bisa menilai
seseorang hanya dari keburukannya. Keburukan seseorang akan tertutupi dengan
kebaikannya sendiri. Kamu hanya fokus dalam menilai bata yang jelek itu saja,
tidak menghiraukan bata-bata yang baik lainnya. Kamu baru tersadar saat kamu
mundur beberapa langkah dan melihat keseluruhan tembok yang kau buat, bata yang
kau anggap buruk kini tertutupi dengan bata yang baik. Penilaianmu berdasarkan
fisik tidak dari hati kecilmu.”
TaplakSuci
Follow me @tikoauo
0 komentar:
Posting Komentar