Senin, 20 Mei 2013

Jangan Bilang Ini, Cinta


"flash fiction"

“rena, kamu kenapa?” tanyanya panik ketika tiba di rumahku. Aku masih saja terdiam meneteskan air mata tak menjawab pertanyaannya. Dia langsung menuju ke rumahku ketika aku menelponnya dengan terisak tadi. Aku mendongakan kepala, menatap matanya, lalu memeluk dan bersandar padanya. Tangisku semakin menjadi-jadi. Dia hanya mengelus-ngelus rambutku dan menenangkanku. Manusia ini Tuhan, orang yang tepat di saat yang tepat. 

“aku gak kuat raf” aku masih saja terisak, dengan sekuat hati aku mencoba berbicara
“dia nyakitin kamu lagi” ucap rafa. “kamu kenapa sih? Masih mau bertahan kaya gini terus. Dia udah nyakitin kamu berkali-kali tapi kamu masih aja mau sama dia. Udahlah”

“kamu gak ngerti rasanya jadi aku”
“aku ngerti, aku ngerti. Makanya aku gak mau liat kamu kaya gini terus. Plis ren, buka mata kamu. Banyak yang sayang sama kamu dan pasti gak suka ngeliat kamu kaya gini termasuk aku!”

“hah, maksud kamu raf? Termasuk kamu?” aku menatap matanya. Mencoba mencari jawaban atas pernyataanya. Tapi dia membisu, matanya penuh kebingungan. Mulutnya beku. Entah apa yang sedang dia pikirkan.

“hah, engga kok ren. Udah pokoknya aku gak mau ngeliat kamu kaya gini. Kalau perlu aku datengin itu orang biar gak nyakitin kamu terus”
Rafa mengalihkan pembicaraan. Matanya seperti menyembunyikan sesuatu yang  entah itu apa. Dia menghapus air mataku. Mengusap pipiku dengan lembut. Aku baru menyadari, ada sudut keteduhan ketika melihat matanya.

Kenapa selalu rafa? Yang datang di saat aku butuh. Lagi-lagi, dia yang mengusap air mataku. Membasuh lukaku, mencoba mengeringkan segalanya. Selalu dia, entah aku yang baru menyadarinya atau memang dia yang baru menunjukannya.

“heh kok diem sih?” ucap rafa membuyarkan lamunanku
“hah, engga raf gak papa”
Dia merangkulkan tangannya kepadaku “udahlah gak usah sedih gitu. Senyum dong. Masih ada aku yang bisa membuat kamu tertawa”
Seperti itulah Rafa, orang yang tepat di saat yang tepat.

Tangan lembutnya selalu mengusap pipiku, tawanya selalu menggugah tawaku. Dia merangkulku saat aku menangis. Dia selalu datang di saat yang tepat. Ketika seseorang membuatku terluka dia membasuhnya dengan kasih sayang tulusnya. dia tidak akan membiarkan aku terluka. Seperti penolong sepadan yang Kau kirim untukku, Tuhan. 

Ya tuhan, aku menyadari satu hal. Satu-satunya orang yang selalu ada untukku adalah rafa. Dia selalu meluangkan waktunya untukku kapanpun di saat aku butuh. Aku seperti orang terpenting dalam hidupnya. Perhatian-perhatiannya baru ku sadari bahwa semuanya bukan hanya sekedar pertemanan. Sorot matanya itu, mengisyaratkan perasaan yang berbeda. Tuhan, untuk kali  ini jantungku berdetak lebih kencang ketika bersamanya. Tolong tuhan, jangan bilang ini cinta.


@elyacitra

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright 2009 BLOG SEKAWAN