"flash fiction"
“rena, kamu kenapa?”
tanyanya panik ketika tiba di rumahku. Aku masih saja terdiam meneteskan air
mata tak menjawab pertanyaannya. Dia langsung menuju ke rumahku ketika aku
menelponnya dengan terisak tadi. Aku mendongakan kepala, menatap matanya, lalu
memeluk dan bersandar padanya. Tangisku semakin menjadi-jadi. Dia hanya
mengelus-ngelus rambutku dan menenangkanku. Manusia ini Tuhan, orang yang tepat
di saat yang tepat.
“aku gak kuat
raf” aku masih saja terisak, dengan sekuat hati aku mencoba berbicara
“dia nyakitin
kamu lagi” ucap rafa. “kamu kenapa sih? Masih mau bertahan kaya gini terus. Dia
udah nyakitin kamu berkali-kali tapi kamu masih aja mau sama dia. Udahlah”
“kamu gak ngerti
rasanya jadi aku”
“aku ngerti, aku
ngerti. Makanya aku gak mau liat kamu kaya gini terus. Plis ren, buka mata
kamu. Banyak yang sayang sama kamu dan pasti gak suka ngeliat kamu kaya gini
termasuk aku!”
“hah, maksud kamu
raf? Termasuk kamu?” aku menatap matanya. Mencoba mencari jawaban atas
pernyataanya. Tapi dia membisu, matanya penuh kebingungan. Mulutnya beku. Entah
apa yang sedang dia pikirkan.
“hah, engga kok
ren. Udah pokoknya aku gak mau ngeliat kamu kaya gini. Kalau perlu aku datengin
itu orang biar gak nyakitin kamu terus”
Rafa mengalihkan
pembicaraan. Matanya seperti menyembunyikan sesuatu yang entah itu apa. Dia menghapus air mataku.
Mengusap pipiku dengan lembut. Aku baru menyadari, ada sudut keteduhan ketika
melihat matanya.
Kenapa selalu rafa?
Yang datang di saat aku butuh. Lagi-lagi, dia yang mengusap air mataku.
Membasuh lukaku, mencoba mengeringkan segalanya. Selalu dia, entah aku yang baru
menyadarinya atau memang dia yang baru menunjukannya.
“heh kok diem
sih?” ucap rafa membuyarkan lamunanku
“hah, engga raf
gak papa”
Dia merangkulkan
tangannya kepadaku “udahlah gak usah sedih gitu. Senyum dong. Masih ada aku
yang bisa membuat kamu tertawa”
Seperti itulah
Rafa, orang yang tepat di saat yang tepat.
Tangan lembutnya
selalu mengusap pipiku, tawanya selalu menggugah tawaku. Dia merangkulku saat
aku menangis. Dia selalu datang di saat yang tepat. Ketika seseorang membuatku
terluka dia membasuhnya dengan kasih sayang tulusnya. dia tidak akan membiarkan aku terluka. Seperti penolong sepadan
yang Kau kirim untukku, Tuhan.
Ya tuhan, aku
menyadari satu hal. Satu-satunya orang yang selalu ada untukku adalah rafa. Dia
selalu meluangkan waktunya untukku kapanpun di saat aku butuh. Aku seperti
orang terpenting dalam hidupnya. Perhatian-perhatiannya baru ku sadari bahwa
semuanya bukan hanya sekedar pertemanan. Sorot matanya itu, mengisyaratkan
perasaan yang berbeda. Tuhan, untuk kali
ini jantungku berdetak lebih kencang ketika bersamanya. Tolong tuhan,
jangan bilang ini cinta.
@elyacitra
0 komentar:
Posting Komentar