kepada kamu, yang katanya berbeda denganku.
seperti biasa, hari ini kamu pergi ke gereja. aktifitas rutin yang harus kamu jalani. dan aku sibuk mengotak-atik hp menunggu smsmu masuk padahal aku tau kamu tidak mungkin mengirimkan pesan disaat jam-jam seperti ini. setelah pulang dari gereja, kamu mampir ke rumahku setelah dzuhur. lalu bertanya pertanyaan yang sama kepadaku ketika kau tiba setelah mendengar adzan berkumandang "sudah sholat belum?" begitu katamu. kita memang selalu saling mengingatkan. aku mengingatkanmu pergi ke gereja dan kamu mengingatkanku untuk menunaikan sholat.
banyak hal yang sudah sering kita lakukan bersama. pergi bersama, bercanda riang hingga kadang lupa arah pulang. kita bertukar tawa dan berbagi cerita. sudah berapa lama kita seperti ini hingga muncul perasaan aneh ketika kita saling berdekatan. dada yang berdegung lebih kencang dari biasanya. dan aku menemukan secuil kebahagiaan dalam dirimu dan aku akan kehilanganya ketika kamu tak ada. entah apa namanya, tapi kita tetap tidak tau kemana arah dari perasaan ini. kita juga tak paham betul kemana hubungan ini harus diarahkan.
aku mengerti kamu berbeda. kamupun paham betul aku berbeda. kamu memakai kalung salib di lehermu dan aku memakai kerudung kemanapun aku pergi. dan apakah karena itu kita tidak boleh bertindak lebih atas perasaan yang kita punya? bukankah manusia tidak punya kemampuan untuk mengontrol perasaan?
lalu ketika cinta menyapa apa yang bisa dilakukan oleh dua hati yang saling jatuh cinta selain hanya ingin saling mencintai dan memiliki? bohong ketika mereka bilang cinta tidak harus memiliki! itu hanya perkataan mereka yang pesimis terhadap cinta yang mereka harapkan.
tapi, ini kisah dua manusia yang berbeda. iya, mereka menyebut kita berbeda. hanya karena kamu mengepalkan tangan dan aku menengadahkan tangan, hanya karena kamu pergi beribadah setiap minggu dan aku setiap 5 waktu setiap harinya. iya, karena perbedaan ini, perbedaan antara tempat ibadah kita yang tak sama, padahal kita sama-sama menghadap Tuhan. bukankah Tuhan itu satu? lalu mengapa kita berbeda?
biarkan perbedaan ini tetap membentang. biarkan aku tetap menengadahkan tangan dan kamu tetap mengepalkan tangan. semoga Tuhan memberi jalan untuk menyatukan hati yang sudah saling berpautan. biarkan mereka mengerti tentang dua hati yang ingin bersatu diatas perbedaan.
Sebuah Jawaban
6 tahun yang lalu
0 komentar:
Posting Komentar